• smancik01
  • smancik02
  • smancik03
  • smancik04
  • smancik05
  • smancik06

SELAMAT DATANG DI WEBSITE RESMI SMA NEGERI 1 CIKANDE. TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGAN ANDA. Pendaftaran SPMB 2026 (*NEW).

Banner

Kontak Kami


SMA NEGERI 1 CIKANDE

NPSN : 20613970

Jl.Otonom Situterate - Bandung, Kab.Serang Banten


info@sman1cikande.sch.id

TLP : 0265656565


          

Login Member

Username:
Password :

Jajak Pendapat

Bagaimana pendapat anda mengenai web sekolah kami ?
Sangat bagus
Bagus
Kurang Bagus
  Lihat

Statistik


Total Hits : 3234615
Pengunjung : 104450
Hari ini : 65
Hits hari ini : 133
Member Online : 1
IP : 216.73.216.174
Proxy : -
Browser : Gecko Mozilla

Pencarian

Status Member

Jadilah Guru Peduli




Sebagai guru, suatu ketika pernahkah Anda saat masuk kelas mendapati seorang siswa atau siswi sedang duduk di kursi guru dengan kaki dinaikkan ke atas meja. Jika pernah, bagaimana sikap Anda? Apa yang Anda lakukan kemudian?

Kejadian itu pernah saya alami. Suatu hari saat saya masuk ke kelas yang saya akan melakukan pembelajaran mata pelajaran yang saya ampu, saya mendapati seorang siswi duduk di kursi guru, kaki dinaikkan ke meja, dan melepas kerudung yang biasa dikenakannya.

Siswi itu serta siswa lainnya yang memang sedang tidak duduk di kursinya riuh bergegas menuju kursinya masing-masing. Setelah semua anak duduk di kursinya masing-masing, saya berkata kepada semua siswa “siswa sekalian sepertinya bapak memergoki seorang siswa yang melakukan tindakan yang  tidak selayaknya,  tindakan yang tidak sepantasnya. Darimana Bapak  tahu bahwa tindakan itu seperti yang Bapak katakan? Bapak tahu dari reaksi siswa tersebut yang merasa panik dan tergopoh-gopoh berjalan secepat mungkin menuju kursinya.”

Diantara siswa ada yang serta merta segera memotong perkataan saya, “Siapa itu Pak”. “Ayo siapa, coba tebak?” jawab saya sambil tersenyum.

“Laki-laki atau perempuan Pak?” tanya siswa kembali.

“Perempuan,” balas saya.

“Ohhh…si Anu yah Pak,” jawab seorang siswi menyebutkan nama teman akrabnya sambil tersenyum lebar.

“Siapa orangnya belum begitu penting, yang penting bahwa tindakannya itu benar-benar diakui dirinya sebagai tindakan yang kurang baik. Kalian tahu kan tindakan apa yang dilakukannya itu?,” jawab saya sambil memalingkan muka dari menatap siswa yang disebutkan temannya itu.

“Tahukah kamu tindakan tidak layak apa yang dilakukannya itu?” “Duduk di meja guru ya Pak ?”

“Nah kamu tahu itu. Tapi bukan hanya itu.” “Buka kerudung juga ya Pak?”

“Lengkap dan tepat.” Tegas saya

Itu dialog singkat saya dengan siswa di awal pembelajaran sebelum masuk ke inti materi pembelajaran. Dialog itu saya sajikan dalam tulisan ini untuk memperlihatkan salah satu bentuk contoh tindakan seorang guru yang tidak membiarkan begitu saja siswanya melakukan perbuatan yang tidak pantas dilakukannya. Sikap ini adalah sikap peduli terhadap siswa.

Sudah seharusnya guru memiliki sikap peduli terhadap apa yang terjadi pada siswa. Apa yang dilakukan siswanya harus menjadi perhatian bahkan sorotan guru. Tidak membiarkan siswanya berbuat yang tidak etis dalam hal ini duduk di kursi guru, apalagi membiarkan tindakan salah dalam hal ini melepas kerudung adalah salah satu bentuk sikap peduli guru terhadap siswa. Jika membiarkan, maka guru dianggap tidak peduli dengan siswa. Lebih dari itu berarti guru juga diangap menyetujui hal itu terjadi. Kondisi ini perlahan-lahan akan menanamkan pada pikiran siswa bahwa tindakannya itu tidaklah salah, bukanlah perbuatan yang dilarang sehingga boleh saja dilakukan sesenang siswa. Pikiran salah ini akan mengkristal, menumpuk, dan menyebar semakin luas ke banyak siswa dan ke banyak waktu. Jika sudah begitu, maka akan sulit menurunkan dan menetralisisrnya kembali.

Kepedulian seorang guru kepada siswa dapat dilihat dalam dua bentuk reaksi, yaitu pertama, reaksi menegur atau mengingatkan ketika siswa melakukan tindakan salah atau tidak etis. Kedua, memberikan hiburan atau penghargaan ketika siswa melakukan tindakan yang normal atau benar.

Reaksi terhadap kedua keadaan itu harus dilakukan dengan hati-hati. Saat menegur, tegurlah siswa dengan penuh ketulusan bukan dengan kebencian apalagi dendam. Lakukan dengan memperlihatkan mimik wajah yang ceria dan bersahabat. Bukan mimik yang marah, apalagi merah padam pada wajah.

Jika tindakan salah dan tidak etis siswa itu adalah tindakan yang tidak ditujukan kepada personal guru yang sedang mendapatinya, maka guru itu dapat menanganinya langsung. Namun jika tindakan tak etis siswa itu ditujukan kepada guru yang mendapatinya, maka sebaiknya guru tersebut tidak menanganinya langsung. Hal ini dimaksudkan agar tidak terjadi konflik interes.

Guru  yang  diledek  siswa misalnya,  boleh  jadi  tidak akan  mampu  menahan  emosi,  akan langsung marah dan menampakkan ekspresi emosinya, misalnya menampar siswa, memukul, meninju dan kekerasan sejenisnya. Keadaan ini tidak baik untuk penanganan masalah, karena dapat melahirkan sikap kebencian dan balas dendam. Dalam kondisi seperti ini sebaiknya yang menanganinya guru lain. Melaporkan atau bersandiwara dengan guru wali kelas, guru wali siswa, atau guru BK adalah langkah baik yang dapat ditempuh. Guru-guru ini diharapkan bisa lebih netral dalam menangani masalah tersebut karena relatif tidak ada konflik interes.

Reaksi dalam memberikan hiburan atau penghargaan juga perlu hati-hati. Penghargaan yang berlebihan akan terasa hambar. Berlebihan karena terlalu sering diberikan. Berlebihan karena kualitasnya yang terlalu tinggi. Sementara tindakan yang dijadikan sasaran pujian tidaklah seberapa berkualitasnya. Demikian juga sebaliknya, penghargaan yang amat jarang dengan kualitas rendah akan terasa tidak berarti bagi siswa apabila tindakan siswa yang jadi sasaran pujian begitu sangat berharga dimata siswa. Jadi, sesuaikan kualitas dan intenstias pujian dengan kualitas tindakan siswa yang menjadi sasaran pujian.

Perilaku normal yang dilakukan siswa yang sesuai dengan pada umumnya tidak harus mendapatkan pujian karena itu akan menjadi sekadar basa basi saja. Jika dilakukan, maka hal ini akan menurunkan makna atau nilai pujian pada saat benar-benar dibutuhkan. Ucapan terima kasih sudah dianggap cukup untuk mengapresiasi tindakan normal tersebut.

Seorang guru yang tidak memperhatikan tindakan atau perilaku siswanya, maka guru tersebut bisa dilabeli guru cuek, guru tak peduli, guru masa bodoh, guru non atensi, dan label lainnya yang senada. Sebaliknya, guru yang memperhatikan perilaku siswanya, maka guru tersebut dapat dilabeli guru peduli, guru perhatian, guru full atensi, dan label lainnya yang senada. Jika guru sudah mau peduli maka tinggal selangkah lagi menjdai guru simpati.

 

Situterate, 28 Januari 2026

 

Majas Abi Ian




Share This Post To :

Kembali ke Atas

Artikel Lainnya :





   Kembali ke Atas